Jurnal Akhir Zaman

Jurnal Akhir Zaman
End Time News

Blog Archive

Ads 728 x 90

Napi Buron Bertobat Masuk Kristen Ikut Tuhan Yesus - Erwin Baharudin

Share it:
Melarikan dari penjara besar kemungkinan ditembak mati, tapi Erwin berani melakukan ini untuk berjumpa keluarganya. Banyak orang yang berpendapat bahwa seorang narapidana adalah sampah masyarakat.

Itu pula yang sempat dirasakan oleh Erwin Baharudin. Namun ternyata saat menjalani masa hukuman, Tuhan justru menariknya dan pemulihan pun terjadi dalam hidupnya.

Kesaksian Erwin Baharudin. Pertobatan seorang napi. Shallom, Begini Kisah Erwin :

Adegan ini diawali pada tahun 2003 Erwin yang kala itu sedang menjalani masa hukuman sepuluh tahun karena kasus narkoba di Lembaga Permasyarakatan (LP) Banjai Bandung nekad kabur dari penjara bersama beberapa temannya dengan melompati pagar.

Erwin Baharudin memulai kisahnya :

"Pelan-pelan saya intip. Dengan rasa takut saya itu, saya coba memberanikan diri. Itu kalau seandainya narapidana ketahuan kabur, naik ke atas tembok, itu akan langsung ditembak. Mati ditempat," Erwin memulai kisahnya.

Nekad adalah jalan satu-satunya bagi napi untuk bisa melarikan diri.

Aksi nekad Erwin dan teman-temannya itu pun sukses, Erwin akhirnya bisa kembali ke rumahnya. Kepada keluarga

Pagi itu sekitar pukul 10.00 WIB Erwin kembali ke rumahnya. Setelah mengetok pintu maka muncul-lah adik Erwin bernama Irwan.

Erwin :
"Saya bertemu dengan adik saya yang beberapa tahun tidak pernah ketemu dengan saya. Dengan rasa kangen maka saya katakan kepada adik saya : 'Abang sayang sama kamu.' "

Irwansyah (Adik Erwin) :
"Saya senang melihat dia. Selama saya tidak ketemu saya terpisah dengan saudara saya."

Adegan :
Irwan : "Saya dengar abang masih ditahan ?"
Erwin : "Abang udah bebas. Sekarang abang capek. Abang mau mandi dulu. Jangan lupa tutup pintunya ya."
Irwan : "Ya bang."

Erwin mengaku mendapat keringanan hukuman. Namun belum lama dia melepas rindu dengan keluarganya, sebuah siaran berita di televisi memberitakan perihal kaburnya beberapa narapidana yang salah satunya adalah Erwin.

Adegan :
Penyiar televisi : "Pemirsa, tadi malam ada beberapa narapidana yang telah berhasil melarikan diri. Saat ini pihak berwajib telah mendapatkan hasil identifikasinya. Salah satunya bernama Erwin Baharudin."

Irwansyah :
"Ternyata dia itu bukan bebas resmi. Abang saya ini berarti kabur."

Adegan :
Erwin : "Kok kalian pada menangis ?"
Irwansyah : "Kenapa abang kabur .... ?"
---- "Adik saya menangis .... ", kenang Erwin.

Erwin : "Saya tanya adik saya kenapa kamu menangis ? kemudian adik saya mengatakan 'Saya takut abang ditembak mati. Karena abang telah melarikan diri dari penjara. Abang pasti ditembak mati.' "

Ibu Erwin : "Erwin ... sebaiknya kamu kembali kesana nak ..."

Keluarganya pun sangat sedih dan meminta Erwin untuk menyerahkan diri agar tidak ditembak mati.

"Karena saya benar-benar sayang sama dia, saya serahin dia. Karena yang pasti kalau saya serahin dia, saya akan bisa ketemu lagi dengan dia," kisah adik Erwin.

Demi adik yang sangat disayanginya, dengan sangat berat hati Erwin mau menyerahkan dirinya kembali.

Adegan :
Erwin : "Maafkan Erwin bu ..."

Namun sesampainya di penjara, Erwin pun harus memetik buah perbuatannya.

"Habis saya dipukul. Saya habis dianiaya disana. Apabila narapidana itu melanggar aturan, atau melarikan diri, maka akan mendapat konsekuensinya," ungkap Erwin.

Erwin pun dipindahkan ke ruangan isolasi, namun ternyata di tempat itu Erwin mendapat sebuah pengalaman yang aneh.

"Di ruang isolasi itu saya tidur, saya bermimpi. Saya berjalan di jalan yang gelap begitu, terus saya mau melangkah kemana?" Erwin mengisahkan mimpinya.

Masih dalam alam bawah sadarnya, Erwin mendengar ada suara yang memanggilnya 'Erwin, Erwin, kemarilah, ini aku ayahmu'. "Karena saya mau meraba jalan itu juga nggak tahu, tapi saya mendengar suara yang ngomong sama saya. "Erwin, Erwin, kemarilah, ini aku ayahmu"" kisah Erwin yang kemudian langsung terjaga dari tidurnya.

"Saya sampai berpikir waktu saya sadar dari tidur, apakah bapak saya yang ada di luar sana sudah meninggal?" Erwin pun kemudian kembali terkenang akan masa kecilnya bersama keluarganya.

Erwin mengisahkan masa lalunya :

"Bener-bener waktu itu orangtua memberikan kasih sayang sepenuhnya kepada kami. Kami sebagai anaknya merasa bangga melihat orangtua pulang," ungkap Erwin.

Namun ternyata tanpa mereka sadari kedua orangtuanya kerap berselisih paham. Bahkan suatu ketika pertengkaran itu tidak lagi bisa ditutupi. Mereka bahkan tidak menghiraukan teriakan anak-anaknya yang meminta mereka untuk berhenti bertengkar. "Mereka tidak mendengarkan perkataan kakak saya, mereka tetap saja lanjut. Lempar sana lempar sini," kisah Erwin.

Pertengkaran kedua orangtua Erwin memicu sumber api. Kakak pertama Erwin berusaha memberikan peringatan tentang nyala api tersebut, namun orangtuanya tidak juga sadar sampai akhirnya api tersebut melahap sebagian besar rumah mereka. Kejadian tersebut akhirnya menjadi awal perceraian kedua orangtua Erwin.

Karena harus bekerja di luar kota, ibu Erwin menitipkan Erwin ke rumah tantenya. Hal ini menjadi awal pemberontakan Erwin. "Saya merasa hidup ini nggak adil buat saya. Saya merasa saya dibuang, saya merasa saya diasingkan," Erwin menceritakan perasaannya ketika berpisah dari keluarganya.

Di rumah tantenya, Erwin kerap mendapat perlakuan yang tidak baik. Dia pun makin merasa bahwa tidak ada yang peduli dengannya. Akhirnya Erwin kecil memilih untuk tinggal di jalanan dan mencari uang dengan caranya sendiri.

"Lugunya saya, saya nggak tahu dan saya lihat teman saya memakai lem. Akhirnya saya juga ikutan mencoba," ungkap Erwin yang akhirnya kecanduan menghirup lem.

Memang benar pergaulan yang buruk merusak kebiasaan yang baik. Makin beranjak dewasa, Erwin makin terlibat berbagai tindakan kriminal. "Jadi dengan saya mengonsumsi lem, dengan obat-obatan itu, saya seringkali berantem dengan orang," kisah Erwin yang kemudian tega menikam lawannya dengan pisau sampai tewas. Erwin pun harus mempertanggungjawabkan perbuatannya di balik jeruji besi.

Namun di sinilah Erwin bisa bertemu dengan kedua orangtuanya dan langsung disambut dengan amuk ayahnya. Pada kesempatan itu, Erwin sengaja meminta ayah dan ibunya untuk rujuk kembali dengan alasan agar dirinya tidak mengulang perbuatan yang sama. Namun hal itu tidak diindahkan keduanya, mereka justru sibuk saling menyalahkan. Erwin pun terbakar emosi dan meminta kedua orang yang disayanginya itu untuk pergi.

"Memang saya waktu itu memang sengaja agar orangtua saya melihat hidup saya seperti ini. Di luar kesadaran saya, saya cuma ingin orangtua saya itu kembali lagi bersama," kisah Erwin yang kemudian mengaku kesal dengan sikap kedua orangtuanya.

Beranjak dewasa, Erwin makin terjebak dalam berbagai tindak kejahatan.

"Pada saat saya bebas dari penjara itu, saya semakin menjadi-jadi. Saya merasa bangga saya bebas dari penjara," ungkap Erwin.

Suatu ketika, Erwin bertemu dengan seorang teman yang dikenalnya di penjara. Orang tersebut memperkenalkan Erwin dengan seorang bos yang mengajak Erwin bekerja sama. Erwin mendapat tawaran sejumlah uang jika dirinya mau menjadi kurir narkoba. Erwin pun mengambil kesempatan ini untuk bisa mendapat banyak uang. Disinilah awal profesi Erwin sebagai bandar narkoba.

Pengakuan Erwin :
"20 gram sabu-sabu, terus dikasih 200 butir inex, itu awal pertama saya menjadi bandar. sehingga suatu saat saya ditangkap oleh polisi."

Nasib mujur tidak selalu berpihak pada Erwin, suatu ketika dia dan teman-temannya ditangkap oleh polisi tanpa bisa melawan. Awalnya, Erwin mendapat hukuman seumur hidup namun setelah melewati serangkaian proses pengadilan, vonis yang diberikan pun berkurang menjadi sepuluh tahun.

Awalnya, penjara tidak membawa banyak perubahan dalam diri Erwin. Namun karena harus mengikuti serangkaian kegiatan, maka Erwin pun terpaksa mengikuti pembinaan kerohanian. Pada suatu ketika, salah seorang pembina rohani menawarkan diri untuk menjadi ayah Erwin. Sesuatu yang selama ini sangat dirindukan oleh Erwin.

Status Erwin sebagai narapidana membuatnya ragu, apakah orang tersebut serius untuk mengangkatnya sebagai anak.

Erwin :
"Saya mau tanya, kamu mau tidak jadi anak saya ? dia bilang begitu. ya saya mau-mau saja pak. Ya kalau kamu mau peluk saya. Nah saya dipeluk sama beliau."

Namun setelah kembali meyakinkannya, Erwin pun menerima tawaran orang itu dan memeluknya. Sukacita pun dirasakan keduanya. Orang itu kemudian membisikan, bahwa dirinya menyayangi Erwin seperti Tuhan menyayangi Erwin untuk selamanya.

Pak Daniel Alexander :
"Bapak sayang kamu seperti Tuhan menyayangi kamu untuk selama-lama-Nya."

"Saya merasa, seperti memang benar-benar ayah saya sendiri. Lewat pak Daniel Alexander itu, saya benar-benar merasakan kasih Tuhan nyata kepada saya," ucap Erwin.

Erwin :
"Saya mulai berpikir dan mengerti maksud Tuhan seperti apa. Yang pengin Tuhan inginkan saya mengikuti proses-proses yang benar. Yesus itu tidak menutup mata buat saya. Banyak yang dia lakukan buat saya. Dengan kehidupan saya yang kotor. Dengan kehidupan saya yang tidak benar atau dibilang sampah masyarakat. Tuhan mau memeluk saya dan Tuhan mau menganggap saya sebagai anak-Nya. Yang dahulu saya harapkan yaitu kasih sayang dari kedua orang tua saya, saudara-saudara saya, atau dari siapapun semuanya itu sudah terbayar semuanya oleh Kasih Tuhan yang sudah mengangkat saya sebagai anak-Nya. Dan benar-benar Tuhan itu ada, nyata buat saya. "

Erwin kemudian menjalani sisa masa hukumannya dengan menaruh pengharapannya kepada Tuhan. Bertahun-tahun dia menanti dan berdoa, sampai akhirnya pada 2007 Erwin mendapatkan pembebasan bersyarat.

"Saya merasa sukacita sekali. Saya itu benar-benar sudah dimerdekakan oleh Tuhan, dan saya merasa bangga kalau doa-doa saya itu didengar oleh Tuhan. Saya tidak akan mau melihat ke belakang lagi, saya mau melihat ke depan," ungkap Erwin.

Perubahan besar yang terjadi pada diri Erwin juga disaksikan oleh keluarganya. "Perilaku dia, semua itu yang dulu hilang. Dia lebih rajin ibadah, lebih rajin baca Alkitab, dia sering memberitahu orang jika melakukan sesuatu yang tidak benar," ungkap Irwansyah, adik Erwin.

"Saya akan memberikan pola hidup yang positif dan bermutu buat Tuhan," janji Erwin.

Setelah menjalani masa hukuman, Erwin kembali ke masyarakat dan membangun sebuah rumah tangga. Ia berusaha menjadi suami yang baik dan teladan bagi anak-anaknya.

Sumber Kesaksian : Erwin Baharudin
Napi Buron Tobat Masuk Kristen | Erwin (ex Muslim)
Catatan : Kalau saudara/i perhatikan ada film-film tertentu di Youtube yang hilang tapi beruntung ada pihak-pihak lain yang mau meng-up-load kembali dengan judul yang berbeda tetapi isinya sama.

"Saya benar-benar bahagia dan bangga untuk berumahtangga dengan dia. Dia suami yang bertanggung jawab, sayang sama keluarga, sayang sama anak," begitu kesaksian Siti Mariam, istri Erwin.

"Saya akan berusaha memberikan kebahagiaan buat istri dan anak saya. Saya akan memberikan contoh kepada anak saya, biar dia tidak melihat bapaknya yang dulu. Terutama saya ingin menyenangkan hati Tuhan," Erwin menutup kesaksiannya.
---- Demikian Erwin mengakhiri kesaksiannya ...
  • Yesaya 43:18-19 = (18) firman-Nya: "Janganlah ingat-ingat hal-hal yang dahulu, dan janganlah perhatikan hal-hal yang dari zaman purbakala! (19) Lihat, Aku hendak membuat sesuatu yang baru, yang sekarang sudah tumbuh, belumkah kamu mengetahuinya? Ya, Aku hendak membuat jalan di padang gurun dan sungai-sungai di padang belantara.
  • Yesaya 43:4 - Oleh karena engkau berharga di mata-Ku dan mulia, dan Aku ini mengasihi engkau, maka Aku memberikan manusia sebagai gantimu, dan bangsa-bangsa sebagai ganti nyawamu.
  • Yeremia 29:11 - Sebab Aku ini mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada pada-Ku mengenai kamu, demikianlah firman TUHAN, yaitu rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan.
Salam kasih dan persahabatan. Tetap semangat menjalani hidup ini. Selalu mengasihi sesama manusia apapun keyakinannya. Selalu mengimani rancangan Tuhan yang luar biasa ada didepan kita. Tuhan Yesus pasti memberkati. Amen.
Share it:

Tobat

Post A Comment:

0 comments: