Jurnal Akhir Zaman

Jurnal Akhir Zaman
End Time News

Blog Archive

Ads 728 x 90

Jebakan Cinta Sejenis (Terlarang) - Sonya Lawalata (Lesbian Tobat)

Share it:

"Ternyata dia menikah dengan saya itu selama ini sudah punya istri. Setelah itu timbul kadang-kadang saya marah, saya sudah minum, saya ambil silet atau pisau atau garpu yang ada didepan saya kemudian saya gores badan saya. Yang ada didalam pikiran saya itu tidak mau lagi bersuami." Tutur Sonya.
Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, tetapi orang berdosa, supaya mereka bertobat." (Lukas 5:32).
Kehidupannya yang penuh dengan cerita perceraian dan ketidakharmonisan rumah tangga membuatnya terjerumus dalam narkoba, minuman keras, kehidupan malam dan juga hubungan sejenis. Namun kasih Tuhan menyelamatkannya. Bagaimana kisah selanjutnya? Inilah kisah nyata Sonya Lawalata yang terperangkap didalam jebakan cinta sejenis.

Sonya Lawalata - Jebakan cinta sejenis / terlarang. Shalom, begini kisahnya:

Sonya Lawalata hidup dalam kegamangan berkeluarga. Orangtuanya bercerai sejak usianya 4 tahun. Omanya yang begitu sayang mengasuhnya sejak kecil meninggal dunia ketika dirinya di usia remaja. Memutuskan merantau ke Balikpapan. Sonya justru dekat dengan seorang pria yang berbeda keyakinan bernama Efendi. Hingga mereka pun menikah dan Sonya mengikuti keyakinan sang suami. Tanpa disadari, perceraianpun terjadi dalam hidupnya.

Hidup Sonya bertambah buruk ketika dirinya terjerat dalam dunia malam ketika merantau ke ibukota. Narkoba dan minuman keras telah menenggelamkannya. Hubungan sejenis pun dilakukannya beberapa kali dengan teman-teman yang dikenalnya. Sonya juga sempat menyakiti dirinya sendiri dengan mengiris-iris tangan dan perutku dengan pisau. Dalam pergumulan ini, justru Sonya sepertia merasakan kenikmatan yang memuaskan hati, hingga dirinya terdorong untuk segera mengakhiri hidup.

Hingga suatu kejadian mengubahkan hidupnya ketika dirinya dihajar oleh tiga orang bodyguard sebuah pub sebagai akibat dirinya tidak mampu membayar tagihan yang tidak bisa dibayarnya. Teman-temannya justru meninggalkannya. Di titik ini Sonya teringat dengan Sari, teman baiknya yang segera mengingatkannya kepada Tuhan Yesus.

Sonya pun diajak oleh Sari menemui ibu Linneke yang melayaninya dengan penuh ketulusan. Melalui ibu Linneke, Sonya diperkenalkan kepada Kristus melalui seluruh perbuatannya yang mencerminkan kasih Kristus. Iman pun bertumbuh dalam diri Sonya yang menjadi sangat yakin bahwa Tuhan Yesus telah mematahkan segala ikatan dosa yang akan membawanya kepada kebinasaan kekal.

Akhirnya Sonya berserah total kepada Tuhan serta menyatakan kesediaan untuk dibaptis. Saat dirinya dibaptis, Sonya merasa ada suatu roh yang keluar dari tubuhku. Saat itulah dirinya menangis karena sangat yakin bahwa dirinya telah dibebaskan dari kutuk dosa lesbian, dan kasih Kristus yang luar biasa kini ada di dalam hidupnya.

Sonya kini menjadi seorang hamba Tuhan yang melayani sebagai pendoa bagi orang-orang yang terbaring lemah di rumah sakit. Bahkan melalui mukjizat Tuhan, Sonya bisa membawa salah satu temannya yang dulu berhubungan sejenis dengan dirinya bertobat dan terlepas dari jerat dosa lesbian. Dirinya kini menjadi wanita yang sempurna di dalam Tuhan Yesus Kristus.

Begini penuturan langsung dari Sonya :

Sonya : "Saya adalah seorang lesbian, yang menyayangi sesama jenis. Saya sampe melakukan seperti suami-istri. Masing-masing juga merasakan kenikmatan. Nggak apa-apa, kita sesama jenis saling mengasihi dan menyayangi."

Dikisahkan ada percakapan antara teman Sonya dengan Sonya yang berlokasi di suatu tempat dimana Sonya bekerja yaitu suatu restoran.

Teman Sonya : "Eh, lu itu bego banget ya. Mau-maunya lu kerja kaya gini. Kamu ini disini cuma diperbudak tahu."

Sonya : "Wah, saat itu aku emosi dibilang begitu. Terus saya ancurin restoran itu. Minuman-nya, piring-piringnya, semuanya. Setelah itu saya ditahan dengan kasus pengrusakan."

Sonya harus masuk penjara selama 7 bulan akibat perbuatannya.

Sonya : "Waktu saya (menjalani hukuman itu) didalam penjara itu tidak ada seorangpun yang menjenguk saya. Sudah ... ada temen ketemu didalem. Temen ini memperhatikan saya. Dan akhirnya kami merasakan saling mencintai."

Percintaan sesama jenispun dilakoni oleh Sonya. Hal yang tabu menjadi layak untuk dilakukannya.

Sonya : "Saya pikir 'Ah, sama aja lah.' Ehhh .... perempuan sama laki-laki sama ajalah, punya jantung dan hati yang sama. Tuhan ciptakan kita saling menyayangi. Saya mencintai dia dan dia mencintai saya. Saya merasakan perasaan aneh, tetapi kok sangat menghibur saya. Kadang-kadang hilang saya punya kekesalan. Kadang perhatiannya, dia mengasihi dan menyayangi saya."

Jalinan cinta terlarang Sonya semakin mengabaikan hal-hal yang tabu, bahkan Sonya nekad bercinta diantara para tahanan.

Sonya : "Waktu itu saya bareng-bareng, tidur disitu. Didalam satu ruangan itu ada 6 - 8 orang. Disitu juga banyak yang partner-partner-an. Ada yang seneng sama sini, ada juga yang nggak, nggak semua. Dan mereka ngelihat kita biasa aja nggak melarang. Kami merasa tidak canggung-canggung lagi. Kami berpekukan disitu ... Kita sampe melakukan seperti suami istri ... masing-masing bisa merasa kenikmatan ... Itu yang saya heran. Saya tidak pusing dengan siapa yang mengatakan dan melihat itu, saya lakukan itu sebab saya merasa saya mendapat kesenangan, yaitu kasih sayang dan perhatian."

Setelah tujuh bulan kemudian Sonya bebas, namun jiwanya terpenjara oleh penyimpangan orientasi seksual.

Sonya : "Gaya penampilan saya sudah berubah, nggak seperti penampilan seorang perempuan. Nggak mau pake rok, pake celana gak mau. Nggak pake lipstik. Bedak-bedak nggak ada. Saya seperti seorang laki-laki."
...
"Kalo ketemu dengan anak-anak sekolah kadang-kadang mereka panggil 'permisi bang', kadang-kadang ada yang panggil pak. Waktu pertama dipanggil itu ada rasa canggung pula, tetapi lama-kelamaan saya anggap saya memang seperti seorang laki-laki. Ya nggak apa-apa mau panggil 'pak' atau 'bang' gak apa-apa."

Pergeseran identitas diri pada Sonya semakin jauh. Pertemuan dengan teman-teman lamapun semakin mengaburkan jati dirinya sebagai seorang wanita.

Sonya : "Saya lepas dari dalam (penjara) kan. Keluar ini ketemu dengan teman-teman yang ada kasus begini. Mereka-mereka yang mencintai sesama jenis. Wah saya tambah ini dong, ya okelah kalo begitu saya cari."

Dalam waktu singkat sonya menemukan pasangan barunya dan kembali terlibat kepada hubungan yang terlarang.

Sonya : "Akhirnya kita bisa berteman. Akhirnya selama tujuh tahun saya kumpul dengan-nya, seperti suami istri, tinggal serumah."

Namun diluar dugaan Sonya tujuh tahun menjalin percintaan sesama jenis harus berakhir dengan perpisahan.

Sonya : "Ada suatu waktu ini sahabat saya yang sesama jenis ini dia menyakiti, menyakiti dan pergi bersama cowok"

Melihat wanita yang disayanginya dengan pria lain membuat sonya teringat akan pernikahannya yang kelam.

Adegan sonya memergoki suaminya dengan wanita lain.

Sonya : "Ternyata dia menikah dengan saya itu selama ini sudah punya istri. Setelah itu timbul kadang-kadang saya marah, saya sudah minum, saya ambil silet atau pisau atau garpu yang ada didepan saya kemudian saya gores badan saya. Yang ada didalam pikiran saya itu tidak mau lagi bersuami."
...
"Sering begitu, pulang lagi nanti inget lagi kasus saya dengan suami. Aduh suami saya begini ... begini ... Sudah minum kebayang lagi langsung perut saya sayat-sayat. Dendam itu masih ada membara didalam hati saya. Sejak kecil saya sudah ditinggalkan papa saya. Dan sampai saya menikah begitu juga ditinggalkan oleh suami. Disitu saya timbul benci sama laki-laki. Bahwa mereka (laki-laki) ini tidak bertanggung jawab."
...
"Ya, saya potong itu kulit mulai terbelah kan, keluar darah, seperti saya ada kelegaan ... nih gak apa-apa nih ... karena kamu semua ini. Karena kamu menyakiti aku nih aku menyakiti diriku ... gitu, yang tadi itu berapi-api marah langsung hilang. udah lihat tuh darah badan udah terbelah-belah ... Gak ada penyesalan. Udah ... biar aja deh ... badan saya hancur."

Jiwanya hancur, setiap sayatan pada tubuhnya seakan bercerita betapa dalam penderitaannya.

Sonya : "Malam sebelum tidur ada suatu waktu saya menyayat badan dan saya pikir udahlah saya tidak mau tikam diri langsung, tapi saya pikir besok pagi sudah nggak ada lagi dan sudah di alam lain. Dengan cara menyayat ini perut dan kemudian saya tidur."
...
"Terus pada saat saya bangun tidur, saya lihat sayatan ini dan loh kok saya masih ditempat tidur dan masih hidup. Saya lihat ini darah kok berhenti."

Namun lolos dari kematian, tidak membuat niat Sonya surut untuk berpesta pora.

Sonya : "Mereka masih mau melakukan dance-dance, mereka naik lagi pindah ke diskotik lain dan mereka mengatakan kepada saya untuk menunggu disini. Nanti kami jemput kamu pulang."
...
"Tetapi ketika tempat ini udah mau tutup, mereka belum datang. Bill (tagihan) udah diserahkan kepada saya."
...
"Kemudian mereka suruh aku bayar. Mereka pikir aku tidak mau bayar, kemudian aku diangkut oleh tiga bodyguard. Kepala saya dipukul kemudian saya dipukul bagian belakang dan kemudian saya jatuh."

Keadaan sonya sangat parah, dan siap untuk merenggang nyawa. Namun sekali lagi sang maut enggan menjemput Sonya.

Sonya : "Dingin embun kemudian saya bangun. Saya duduk dan agak kliyeng-kliyeng begitu. Tiba-tiba pikiran saya begini lho 'Aku kan punya Tuhan Yesus, saya terus panggil Tuhan Yesus tolong saya.' "

Dengan sisa tenaga yang ada, sonya berusaha bangkit dan menghubungi saudaranya. Dirumah itu Sonya berangsur sembuh. Dan peristiwa yang tidak terdugapun terjadi.

Sonya : "Sesudah seminggu saya dirumah ada petir tengah malam itu. Petir itu berbunyi kiri kanan aduh ... Dia berbunyi dan saya ketakutan, ambil dan tutup pake selimut sampe lantai itu bergetar .. deng .. deng .. deng. Berbunyi terus sampe saya pikir 'Tuhan lagi marah pada saya. Tuhan lagi ngomelin saya ... Tuhan ... ampuni saya, karena kesalahan saya banyak banget. Kepikir semua kejadian dimasa lalu, kemudian sepertinya sampe pagi tidak bisa tidur, kenapa bisa begini.' "

Peristiwa malam itu terus menghantui sonya. Benarkah Tuhan murka atas hidupnya. Sampe keesokan harinya sonya ditemui oleh keponakannya.

Keponakan : "Eh tante, ke gereja dong."

Sonya : "Emang kenapa ?"

Keponakan : "Yah tante, dah tua tidak mau berubah."

Sonya : "Kemudian dia (keponakan saya) bilang begini 'kami yang masih muda udah bertobat, tante yang udah tua kok belum mau sadar.' "

Sonya : "Saya waktu diajak keponakan saya itu masih pake gaya cowok. Kemudian didalam gereja saya mendengar firman Tuhan dan larangan-larangan, menyinggung tentang lesbian, homoseks, waduh itu terus ... ya Tuhan saya bersalah ... saya bersalah ... Saya merasakan jamaah Tuhan. Waktu saya angkat tangan begini ... seperti dingin ... terus tubuh saya gemetar. Ini saya minta ampun segala kesalahan saya. Apa yang sudah saya lakukan ini Tuhan saya percaya Tuhan sanggup melepaskan saya dari keterikatan ini. Bukan luka ini yang diminta sembuh, tetapi jiwa saya ya Tuhan ... Engkau rubah jiwa saya ... Tiba-tiba karena gaya saya masih laki-laki sehingga ada petugas itu ngomong 'Pak ... pak ini jangan disini ... disini tempat ibu-ibu.' Kan saya lagi kusuk ni berdoa ... terus saya muter badan saya ... saya balik dan berkata 'Saya ibu pak.' "

Pengakuan Sonya itu adalah pengakuan yang membuatnya tersadar bahwa dirinya adalah seorang wanita.

Sumber:
Kesaksian Kisah Nyata Sonya Lawalata Pengakuan Seorang Mantan Lesbian

Sonya : "Saya akhirnya meninggalkan pasangan lesbian itu. Mulai pake rok, pake baju perempuan. Mulai rasa gak enak kalo gak pake baju dalem ... apabila rasanya reseh ... mulai ada lipstick."
...
"Disaat saya menerima Yesus Kristus sebagai Tuhan. Tuhan memulihkan saya. Saya sudah mengampuni mereka. Saya sudah mengampuni orang tua saya ... disaat mereka meninggalkan saya diwaktu kecil. Dan saya juga mengampuni suami saya. Saya tidak dapat bales kasih Tuhan kepada saya. udah tadinya saya udah di lumpur. Tuhan mengangkat saya. Dia bilang dosa saya udah dibuang di rawa yang paling dalam. Apa yang harus saya bales kepada Tuhan yaitu saya harus kembali mengasihi Tuhan dengan segenap hati saya."...
"Yesus Kristus itu adalah Tuhan dan Juruselamat Saya."
----- Demikian Sonya mengakhiri kesaksiannya ...
Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, tetapi orang berdosa, supaya mereka bertobat." (Lukas 5:32)
Salam kasih dan persaudaraan. Tetap semangat dan selalu mengasihi sesama manusia apapun keyakinannya. Tetap berusaha menjadi manusia yang berguna bagi lingkungan sekitar kita. Apapun dosa kita sebelumnya, Yesus lebih melihat kita dalam usaha kita menjadi manusia yang benar. Kita pengikut Tuhan Yesus selalu mempunyai pemikiran bahwa pasti ada rancangan masa depan yang penuh pengharapan. Kalau saat ini Tuhan Yesus memanggil saudara/i dan saya, ya sebaiknya jangan mengelak. Tidak usah malu dengan semua dosa yang kita lakukan, didalam Yesus ada pengampunan dan harapan. Tuhan Yesus memberkati. Amin.
Share it:

Tobat

Post A Comment:

0 comments: