Jurnal Akhir Zaman

Jurnal Akhir Zaman
End Time News

Blog Archive

Ads 728 x 90

Terikat Okultisme Dan Jimat Lalu Dipulihkan Tuhan Yesus - Onah Wijaya

Share it:

“Sesajen itu sudah tidak berguna lagi bagi saya. Kemudian saya marah dan memecahkan sesuatu sambil mengatakan ‘sial ni.’ Lalu saya mengatakan ‘Siapa sih yang memakan sesajen ini ? coba keluar. Siapa yang berani makan sesajen ini ?’ ” Kata Onah. Ternyata tantangan itu didengar. “Pas malam saya lagi tidur, kaya ada orang jalan di tangga pake tongkat ngagetin saya. Akhirnya saya tidak bisa tidur dari jam 1 sampai pagi.” Demikian penuturan Onah.

Ini adalah seri kesaksian seorang yang dahulunya belum mengenal Tuhan Yesus dan pernah menginginkan kekayaan dengan cara yang tidak Alkitabiah. Kemudian Tuhan Yesus turun tangan dan secara bertahap kehidupan pribadi dan keluarganya dipulihkan.
Bangkitlah, menjadi teranglah, sebab terangmu datang, dan kemuliaan TUHAN terbit atasmu. (Yesaya 60 : 1)
Kesaksian Onah Wijaya. Terikat Okultisme dan Jimat lalu dipulihkan Tuhan Yesus. Onah Wijaya - Bebas dari okultisme dan jimat. Shalom, begini kisahnya:

Onah Wijaya hidupnya selama bertahun-tahun dihantui oleh roh halus.

Onah Wijaya :
“Waktu saya umur 7 tahun saya sakit. Sebetulnya udah mati, tiga hari tiga malam, udah masuk peti. Mama, papa dan semua saudara udah menangis. Udah mau gali kuburan. Dibelakang rumah saya itu ada dukun. Dipanggil dukun itu. Kata dukun ‘Ini Onah rohnya udah dibawa … harus pake sesajen. Sesajen itu kepala ijo 12, terus kopi, teh manis’. Udah disajen begitu saya hidup kembali. ”

Onah beruntung lolos dari maut. Namun kehidupannya sepertinya jauh dari beruntung. Pekerjaannya sebagai pembantu rumah tangga. Orang tuanya kuatir akan kehidupan Onah. Namanya juga orang tua.

Onah Wijaya :
“Onah kok hidupnya pindah kerja kemana-mana terus, lebih baik lu kawin aja. Dibawa sama papa ke tempat dukun. Kemudian dukunnya bilang ‘Wah ini ada tanda putih. Jodoh kamu berat. Mana bedak kamu keluarin. Terus ama dukun itu dijampe-jampe begitu. Dukunnya bilang : ‘Ini bedak harus dipake tiap hari ’ ”

Adegan :
Dukun : ‘Kamu harus pake bedak ini tiap hari ya.’

Onah Wijaya :
“Setelah dia (dukun) udah kasih begitu. Dukun berkata ‘Ini air kembang. Kamu mandi ke kamar’. Di rumah dukun itu saya mandi.”

Jimat sang dukun langsung terlihat khasiatnya. Onahpun mendapat jawaban.

Onah Wijaya :
“Jadi bedak itu saya pake tiap hari. Jadi banyak cowok pada dateng ke rumah kita naksir. Cowok itu suka dateng ke rumah. Setelah mengenal pria itu kurang lebih 6 tahun, nah terus saya menikah.”

Kebahagiaan mereka tidak didukung oleh keadaan ekonomi yang baik. Memang uang bukanlah segalanya, tapi segala-galanya membutuhkan uang.

Onah Wijaya :
“Suami kerja cuma jualan kue. Ekonomi susah. Pada suatu hari saya datang ke rumah papa bersama suami. Terus papa saya bilang ‘Onah, lu punya laki susah. Papah kasih deh bumbu…’ ”

Suami Onah : ‘Kasihlah uang gitu sama dibungkus kain putih untuk ditaruh dibawah itu Loyang kue, sebagai penglaris begitu.’

Impian hidup senang membuat Onah dan Aris (suami) menjalankan semua ritual.

Onah Wijaya :
“Apa yang papa pesan saya lakukan.”

Suami Onah :
“Tiap hari malam senin kita duduk tiap malem jum’at juga, jadi seminggu dua kali.”

Onah Wijaya :“Bikin kopi, bikin the, rokok, kemudian saya bakar menyan.”

Suami Onah :“Itu penting katanya, biar pada makan katanya.”

Tidak beberapa lama kemudian, jimat itu sepertinya memberikan keberuntungan dan perekonomian mereka membaik.

Onah Wijaya :“Jualan kue itu laku.”

Suami Onah : “Banyak yang pesan-pesanm laris istilahnya. Sampai kebeli motor.”

Onah Wijaya :
“Semua alat-alat dirumah penuh lah.”

Ambisi menjadi kaya, membuat mereka dengan tekun melakukan segala persyaratan.

Orang tua onah : ‘Ini sudah ada TV dan semua perabotan rumah tangga komplit semua.’

Onah Wijaya :
“Kalo lu bisa bawa itu punya babak, lu bisa punya mobil, punya rumah. Jadi orang kaya. Setelah papa saya ngomong kaya gitu, wah enak jadi orang kaya nih.”

Namun sebuah pantangan terlupakan oleh mereka.

Aris Bohandi (Suami Onah) :
“Yang banyak dipesenin itu hari kelahiran kita”

Adegan :
Papa Onah : Jangan pernah berjualan pada hari kelahiran kamu ya.

Onah : ‘Itu pantangannya.’

Adegan :
Papa Onah : ‘Bilamana kamu langgar kamu tahu sendiri akibatnya.’

Suami Onah : ‘Pernah nyoba saya, eh malah berantakan. Akhirnya yang pesan gak ada lagi.’

Onah : “Udah jualannya sepi. Trus suami pulang marah. Saya lebih marah lagi kepada dia. Nggak ada sejahtera.”

Adegan suami marah-marah dan si istripun marah-marah.

Jimat yang mereka andalkan ternyata tidak lagi memberi keberuntungan.

Onah :
“Sesajen itu sudah tidak berguna lagi bagi saya. Kemudian saya marah dan memecahkan sesuatu sambil mengatakan ‘sial ni.’ Lalu saya mengatakan ‘Siapa sih yang memakan sesajen ini ? coba keluar. Siapa yang berani makan sesajen ini ?’ ”

Ternyata tantangan itu didengar.

Onah :
“Pas malam saya lagi tidur, kaya ada orang jalan di tangga pake tongkat ngagetin saya. Akhirnya saya tidak bisa tidur dari jam 1 sampai pagi.”

Sudah tidak lagi memberi keberuntungan, ditambah lagi gangguan yang dialami Onah merekapun sepakat mengembalikan jimat itu kepada ayahnya. Namun jiwa Onah yang rapuh membuat dirinya tetap mengalami terot makhluk-makhluk gaib.

Suami Onah :
“Mukanya sepertinya bukan lagi istri saya lagi.”

Onah :
“Kelihatannya melihat suami marah dan melihat anak kayaknya emosi lagi begitu. Terus suatu hari marah bisa enam kali mukulin anak. ”

Adegan :
Suami Onah : ‘Eh, mama ini gimana anak sendiri kok dipukuli.’
Onah : ‘Diam kamu.’

Onah :
"Saya jadi seorang istri yang pemarah.”

Sebuah peristiwa yang tidak dia sangka terjadi disaat usia pernikahan mereka memasuki tahun ke-12.

Onah :
“Saya mendapat telepon dari Bandung. Dia bilang ‘Saya mau ketemu dengan papa saya.’ Kemudian saya bertanya ‘Kamu siapa ?’. Dia menjawab ‘Saya anaknya pak Arif.’ Kemudian saya menjawab ‘Hah, kamu anak pak Arif ? Pak Arif tidak pernah ngomong punya anak. Kalau kamu anaknya kamu datang ke rumah saya.’“

Suami Onah :“Istri saya marah sama saya.”

Onah :
“Saya bilang sama papanya ‘Oh, kamu selama ini ngebohongi saya ya. Kamu dulu bilang sama saya bujangan. Saya nyesel sama kamu.’ Kemudian saya tonjokin suami saya.”

Suami Onah :
“Waktu itu saya diam saja, mau ngapain lagi. Akhirnya saya terus terang saja ama dia. Kemudian saya bilang ‘Saya emang udah punya anak.’ ”

Kenyataan pahit itu membuat jiwa Onah semakin terguncang.

Suami Onah :“Ya Emang istri saya suka melamun.”

Onah :
“Saya tidak bisa tidur. Nggak bisa tidur itu selama 8 hari 8 malam. Kalo saya mau tidur suara itu bicara terus di kuping saya. Begini katanya ‘Saya kan malaikat Tuhan yang dibuang Allah kebumi. Onah kamu kan teman saya.’ Pokoknya stress. Ada orang ngomong di kuping, tapi nggak ada orangnya. Kondisi saya juga sakit. Suami saya tidur disamping saya. ‘Pi, bangun … bangun, saya tidak bisa tidur nih. Setan ngomong di kuping saya.’”

Suami Onah : “Suka mendengarkan suara-suara Iblis begitu.”

Onah : “Jadi stress gitu. Pokoknya stress.”

Makhluk-makhluk halus it uterus meneror hidup Onah, hingga membuat Arispun bingung mengatasinya.

Suami Onah :
“Jadi kita pusing juga, bagaimana … apa solusinya ? kita juga ngikut stress melihat dia. Saya balik-in lagi sama mertua.”

Adegan suami onah mengadu kepada mertuanya.

Suami Onah : “Mertu bilang ‘Kan lu udah perjanjian kan, perjanjiannya kan udah sehati. Kenapa kamu kembali-in ? makanya jadi nyerang sama si Onah.’ Kemudian mertua bilang ‘nah, itulah akibatnya.’ ”

Suami Onah : “Sekarang tolong sembuhin, kan anak bapak sendiri, kemudian mertua bilang ‘saya tidak bisa menyembuhkan sendiri, kalau orang lain gue bisa.’ ”

Onah kemudian dibawa kepada seorang guru yang ilmunya lebih tinggi dari sang ayah (mertua).

Suami Onah : “Istri saya dibawa kepada gurunya mertua saya.”

Onah : “Dukun itu kasih saya air kembang. Kemudian saya mandi air kembang.”

Suami Onah : “Trus dibawa ke kuburan. Membakar menyan dan jampi-jampi begitulah.”

Onah : “Kasih mantera ditempelin dirumah.”

Suami Onah : “Trus ambil tanah dari situ. Sembuh kagak, kumat iya.”

Onah : “Malah Roh jahat itu tidak hilang.”

Suami Onah : “Ditelinga-nya ada yang ngebisikin, ngomongin. Aduh gimana nih ya ?”

Onah : “Akhirnya suami saya membawa saya ke rumah sakit jiwa. Kata dokternya ‘Apa keluhan ibu ?.’ kemudian saya menjawab ‘ada orang ngomong di kuping.’Kemudian dokter itu berkata ‘Ibu kan percaya sama Tuhan ? Kalau ibu percaya kepada Tuhan, Tuhan ada.’ Dokter ngomong itu saja saya tidak mau.”

Suami Onah : “Dicek … cek … cek akhirnya gak ada gejala orang sakit jiwa.”

Onah : “Trus ada orang bilang ‘Lu jangan ngomong sembarangan kepada dokter. Dokter itu bohong tahu gak ? Tuhan gak ada dihati kamu, yang ada saya. Onah lu ngapain kesini ? ini kan tempat orang gila semua. Itu kan anak buah gua yang gila-gila ditempat ini.’ Eh pas saya lagi nongok ada suster menghampiri dan mengatakan ‘Jangan bengong nanti setan keenakan.’ Kemudian ada yang langsung bilang ‘Bohong … bohong susternya bohong. Lu jangan percaya kepada suster, percaya ni sama gua’. Kayaknya roh gua dan roh setan itu sudah jadi satu jadi ngomongnya ama dia ya asiknya sama dia (setan itu). Tapi saya tidak ngomong diem aja, melongok aja gitu.”

Obat yang didapat dari dokter tetap tidak bisa membuat Onah tidur. Aris kembali mencari pertolongan lain.

Suami Onah : “Trus akhirnya kan dia dibawa ke yang membersihin setan gitu.”

Onah : “Bawa air juga.”

Suami Onah : “Air putihnya dijampi-jampi.”

Onah : “Pundak saya dipencet.”

Suami Onah : “Istri saya itu ama dia diangkat … diangkat.”

Onah : “Ini airnya diminum. Kemudian saya minum dan nyatanya malah gak bisa tidur. Yang saya rasakan itu Cuma bengong, melongok. Kemudian saya berpikir kok saya jadi begini bisa idup. Udahlah kalo mau mati … mati ajalah dalam hati saya ngomong begitu. Tapi saya berpikir ‘Kasihan anak-anak masih kecil.’ ”

Disaat keadaan mereka tambah terpuruk, melalui cerita seorang kerabat Aris mereka meminta pertolongan kepada seorang Hamba Tuhan.

Suami Onah :
“Baca aja Alkitab dia bilang begitu. ”

Kemudian hamba Tuhan itu mendoakan Onah.

Onah :
“Tidur pules banget, kemudian saya itu bangun kaya ada tangan begitu megang mata saya. Trus ada suara berkata ‘Bangun … bangun.’ Saya langsung bangun saya baca Alkitab, dan di Alkitab mengatakan ‘Bangkitlah menjadi teranglah sebab terangKu datang di Yesaya 60:1.’ Setelah membaca itu saya rasanya haus … haus akan firman Tuhan. Jadi saya pergi ke gereja untuk mengikuti ibadah kaum wanita. Duduk di paling depan saya cuma menangis… saya nangis kenceng banget disitu. Saya itu tidak tahu apa sebabnya nangis itu saya tidak tahu. Setelah itu saya rajin ibadah hari minggu, ibadah kaum wanita … rajin. Ada ketenangan didalam hati saya.”

Hari itu menjadi titik balik didalam hidup Onah sekeluarga. Belenggu terror dan ketakutan sudah dipatahkan.

Onah :
“Saya ada ketenangan ada suka cita … ada damai … didalam hati saya … didalam keluarga saya. Suara-suara setan-setan roh jahat udah hilang.”

Suami Onah :
“Sekarang hatinya lembut, ama anak sayang. Ama suami sayang banget. Keluarga kami, anak kami dipulihkan semuanya. Hidup udah tentram, damai, sejahtera.”
  • Janganlah kamu berpaling kepada arwah atau kepada roh-roh peramal; janganlah kamu mencari mereka dan dengan demikian menjadi najis karena mereka; Akulah TUHAN, Allahmu. (Imamat 19:31)
  • Orang yang berpaling kepada arwah atau kepada roh-roh peramal, yakni yang berzinah dengan bertanya kepada mereka, Aku sendiri akan menentang orang itu dan melenyapkan dia dari tengah-tengah bangsanya. (Imamat 20:6)
  • Dan apabila orang berkata kepada kamu: "Mintalah petunjuk kepada arwah dan roh-roh peramal yang berbisik-bisik dan komat-kamit," maka jawablah: "Bukankah suatu bangsa patut meminta petunjuk kepada allahnya? Atau haruskah mereka meminta petunjuk kepada orang-orang mati bagi orang-orang hidup?" (Yesaya 8:19)
Sumber :
kesaksian - okultisme,mengandalkan jimat,dan dipulihkan Tuhan keep soe

Onah :
“Saya baru sadar bahwa mencari kekayaan kedukunsemuanya itu sia-sia. Tidak ada sukacita. Yang saya alami itu cuma penderitaan, penyakit, karena saya percaya bahwa Yesus sudah mati di atas kayu salib menolong saya dan menyembuhkan saya.”

Suami Onah :“Terima kasih Tuhan bahwa Kau sungguh baik dan amat baik.”

Onah :“Saya bersyukur kepada Tuhan bahwa Tuhan Yesus itu sangat baik”
----- Demikian Onah Wijaya mengakhiri kesaksiannya.

Salam kasih dan persahabatan. Salam semangat, tetap mengasihi sesama manusia apapun keyakinannya. Tuhan Yesus memberkati. Amin.
Share it:

Tobat

Post A Comment:

0 comments: